Selasa, 14 April 2015

Tidak Hanya Manusia, tetapi Tuhan juga Butuh di Kabari


MenyelingkuhiNya karena tak sengaja (?)
Semua pasangan di dunia ini tentu menginginkan kedekahan dengan pasangannya. Agar bisa selalu dekat, memberi kabar, melihat wajahnya setiap hari sehingga ketika rindu datang tidak perlu merasakan sakit karena harus menunggu untuk bertemu. Dengan jarak yang dekat, komitmen yang erat, peluang selingkuh pun tak akan pernah mencuat.
Begitu pula jika kita selalu dekat dengan rumah Tuhan. Bersimpuh, berdoa, berkirim salam bisa dengan mudah kita lakukan. Lalu apakabar jika kita jauh dariNya? Terlebih lagi Dia tak berupa. MengingatNya pun hanya kadang kala. Datang kepadaNya hanya sementara dan pergi begitu saja. Lupa menyapa, memanjatkan doa, atau bahkan kita sudah menyelingkuhiNya?
Tuhan berpuasa. Ia menahan murka. Terbukti walau kita tak menghadapNya, janjiNya terlaksana untuk tetap menerbitkan matahari untuk kita.
Padahal bukan hanya manusia yang merasa terdzalimi saat dia diselingkuhi. Dia (begitu) murka saat kita tidak mengabari, karena Tuhan juga butuh dikabari.

Senin, 15 Desember 2014

Asah Kreativitasmu Menulis Novel

Ini adalah link yang memiliki banyak panduan tentang tata cara manulis novel dengan mudah. Bagi pemula, wajib masuk !
www.Indonesia.com/cara+menulis+novel

Senin, 20 Oktober 2014

(Puisi) Merindukan Kartini yang Harum Namanya

Suatu malam aku bermimpi
Bermimpi menjadi permaisuri
Permaisuri yang memiliki wajah berseri-seri
Permaisuri yang menggunakan sanggul
Sanggul sederhana
Tanpa hiasan
Tanpa berlian
Namun menyimpan seribu cinta
Cinta untuk negaranya
Berjuang demi srikandi bangsa
Srikandi-srikandi Indonesia yang terkadang dipandang sebelah mata
Perlahan ku buka mata dan menatap kusen-kusen jendela
Terdiam sejenak, kembali ku tutup mata

Ternyata aku hanya merindukan sesosok Kartini yang harum namanya

Surat dari Peri

Aku menulis di pagi ini. Saat matahari belum menyapa bumi. Udara terasa sejuk untuk diri yang terasa sendiri. Semilir. Sendiri aku duduk di balkon menghadap jagad kota ini. Lampu masih berkerlip. Langit mendung. Awan sedikit bergumpal menyisakan uap air sisa hujan semalam. Berucap Alhamdulillah dan Subhanallah. Masih diberi kesempatan istimewa seperti ini.
Di dalam waktu yang sunyi. Aku sendiri. Berdoa dan menyepi. Bertanya dan memohon kepada Tuhan sang Maha Pemberi. Aku meluapkan isi hatiku tiada henti. Air mengalir dari sudut mataku. Aku bercerita...
Tuhan yang mencintaiku, kini aku resah. Terasa sulit sekali memejamkan mata ini. menenangkan hati yang sendiri. Kenapa aku? Tuhanku, aku mencari dengan berlari jawaban atas penyakitku ini. Nama-Mu ku serukan, Rasul-Mu ku sebutkan, kalimat-Mu ku bacakan. Tak lekas juga aku temukan jawaban.”
“Maha segalaku, beberapa waktu lalu aku di khianati oleh saudaraku sendiri. Kepercayaanku diabaikan. Rasaku disepelekan. Mungkinkah itu penyakit yanng menghalangi kebebasab diriku, Tuhan? Bolehkah peri kecilmu ini bercerita? Peri ini sudah tidak mampu mengawasinya lagi. Sayapku patah. Tubuhku lemah. Aku tidak bisa terbang tinggi mengikuti inginnya. Jangankan membawaku yang buruk ini, mendengarkan keluhku pun ia enggan. Bukan hanya raga yang terlunta, jiwapun merana. Oh, Tuhan Maha Bijaksana semoga deritaku ini sementara. Aku memohon, ambilah luka ini. Sekarang juga.”
“Aku tidak pernah menyesal. Bahkan aku sangat senang. Pernah menjadi peri yang mengawasinya. Namun karena percaya yang sudah diperdaya. Membuatku putus asa. Aku rela. Semoga dia mendapatkan peri yang bergelimang asa. Sehingga bisa menemaninya selamanya. Jagalah dia, Tuhan.”

“PeriMu pamit.”

[cerpen] “Kekasihnya Diculik Matahari, Ia Diseret Ombak”

Pada sore menjelang senja yang dulu kukenal sebagai waktu terbaik untuk menumpuk sendal menjadi gawang, lalu bermain bola bersama anak-anak sebaya. Kini kukenali sebagai waktu yang tepat untuk membawa seorang perempuan ke tepian pantai, dan mencium bibirnya yang merah. Perempuan seperti apa yang melengkapi keindahan senja? Itu tergantung pengalaman hidupmu sebagai laki-laki, sejak kau menganggap bermain bola di waktu sore tak lagi semenarik senyum perempuan.

Orang bilang, para penulis mengatakan di novel-novel cinta picisan, sutradara menunggu berjam-jam untuk merekam gambarnya, matahari di kala senja adalah matahari yang indah. Matahari di kala senja, adalah matahari yang baru saja selesai marah sepanjang hari. “Ini seperti perempuan, terjadi pada isteriku, setiap usai meluapkan kemarahan, ia bagai bidadari yang mempesona,” kata seorang suami. Matahari yang marah sepanjang siang, menularkan emosi yang meledak-ledak di kepala manusia. Lalu matahari senja, adalah keelokan yang luarbiasa. Orang-orang berduyun memuja kecantikannya, biasanya pergi ke pantai, menikmati matahari kala senja itu.

Masih banyak tipe matahari yang lain. Matahari di Eropa, ia malu-malu pada musim tertentu. Malu atau pelit adalah hal yang tipis untuk dibedakan sebenarnya. “Matahari di Eropa seperti perawan, atau nenek-nenek kikir, membuka pintu sedikit. Orang berduyun di depan pintunya mengharap kehangatan, dan ia menutup pintu dengan cepat, meninggalkan orang-orang kedinginan.” kisah pria petualang lain, yang di paspornya tercap visa-visa Eropa. “Matahari di Afrika atau Arab, lebih ganas. Ia seperti Xena The Warrior Princess,” saksi seorang agen pemain sepakbola yang sering pergi ke Afrika dan transit di negara Arab mencari pemain murah untuk bermain di Liga Indonesia.

Tapi matahari kala senja di Indonesia, indahnya luar biasa. Dan momen itu paling tepat untuk mencumbu bibir perempuan.

Dan setelah melewati puluhan hari, sejak aku tak lagi menyusun sendal menjadi gawang lalu bermain bola bersama rekan-rekan yang masih belia. Akhirnya aku berhasil membawa seorang perempuan, yang sudah kulabeli kekasih, pada suatu sore yang kurasa tepat, ke pantai yang kuanggap paling indah.

“Kenapa kau bawa aku kemari?” tanya kekasihku. Kami berdiri berhadap-hadapan di tepian pantai, lepas adzan Ashar. “Aku ingin menciummu.” jawabku. Kekasihku tersenyum. “Akhirnya kau akan menciumku juga,” timpalnya, sudah berbulan-bulan sejak kami menjadi pasangan kekasih, aku memang belum menciumnya, aku menunggu saat yang pas. Pernah sekali kubawa ke pantai, tapi hari itu hujan. Pernah kulihat matahari yang bagus, tapi pantainya kotor. Semuanya kini tepat seperti yang kuinginkan, pada hari kami berdiri berhadapan, sekarang.

“Kapan kau menciumku?” tanya kekasihku.
“Tunggu dulu,” aku melirik ke belakang lehernya, matahari bersiap tergelincir ke ufuk barat. “Sebentar lagi,” kataku.

Aku mengamati matahari itu dengan seksama, ia indah luarbiasa, ia matahari yang sepanjang hari tadi ganas membakar kepala-kepala manusia hingga luluh-lantak tak berdaya, kini tak berdaya, ia hampir mati terkapar jadi santapan malam.

“Pejamkan matamu,” pintaku. Kekasihku menurut, ia memejamkan matanya. Aku melirik ke belakang lehernya, matahari tinggal separuh, separuhnya lagi sudah dikunyah senja. Aku bersiap memejamkan mata.

“Buruan.” pinta kekasihku, kulihat bibirnya sudah menunggu lidahku. Aku memejamkan mata, membasahi bibirku dan mendorongnya maju, tapi… tak ada apa-apa. Aku mendorong kepalaku lebih ke depan, tapi masih tak kudapati bibir merekah kekasihku. Aku membuka mata. Tak ada siapa-siapa kecuali, matahari yang perlahan hampir lenyap ditelan samudera malam. Ia tertawa!

“Brengsek!” teriakku, “Matahari brengsek!” aku marah luar biasa. “Matahari itu menculik kekasihku!” Teriakku pada debur ombak, ujung lidah matahari masih terlihat sedikit. Tanpa pikir panjang aku berlari mengejarnya. “Kembalikan kekasihku!” Aku berlari membabi-buta, menerjang lautan. “Kembalikaaaa…blurrppp!” Ombak menyapu wajahku. Aku sadar aku sudah berlari terlalu jauh ke arah laut. Aku balik badan, daratan sepertinya dekat. Aku berlari menjauhi lautan, tapi tiba-tiba, tangan-tangan ombak memeluk dengkulku, mencengkeram betisku, menarik pinggangku, dan menyeretku jauh ke dalam samudera…

(nugros/20Okt)
Cerita di posting oleh salah satu sutradara andalan Indonesia, Fajar Nugros.

Cinta? (Baca: Cinta dan Tanya)

Dentingan nada-nada minor mengalun bebas dalam dekapan alam. Membuatku semakin terdiam dan meringkuh rapuh karena kegetiran sebuah hati yang naif. Aku sendiri tak benar-benar mengerti apa arti dari sebuah perasaan, apalagi mengenai cinta. Rasa ini begitu indah tapi sayangnya selalu menggelisahkan hati yang sulit percaya akan kekuatan jiwanya. Layaknya biola yang akan melahirkan nada-nada merdu dari dawainya. Pun dengan cinta, yang akan membahagiakan umat manusia dengan anugrahnya. Ini hal fana yang paling disukai manusia. Dan salah satunya adalah diriku terhadapnya.
Untuk apa menjadi kaya jika cinta itu sederhana. Hanya dengan tahu kabarnya sudah bisa membuat  bahagia?
Untuk apa menguasai dunia, jika cinta itu sederhana. Dengan bisa berbagi bersama mereka sudah bisa membuat tertawa dan lega?
Entah rasa apa yang harus kupertahankan untuk sosoknya. Cinta, sayang, kejujuran, ketulusan, atau rasa percaya? Sayangnya semua itu sering kali membuatku menderita. Membuatku mengais-ais iba untuk diri dan jiwa kelanaku. Apa ini balasan yang didapat seorang pecinta?
Pecinta seharusnya selalu dipuja bukannya dicerca. Malang! Malang sekali nasib seorang pecinta. Seperti kisah Majnun, pecinta Arab yang menderita jiwanya karena kefanaan. Dirinya dibuat menderita dan gila.

Aku hanya ingin tua dengan cinta. Menghabiskan masa muda dengan berkelana bersamanya, cinta.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Matahari Yang Terlupakan ♥

Di taman kota yang ramai Zack dan Rubi duduk berdua menikmati cantiknya rembulan yang sedang sempurna. Setelah mereka berdua menghabiskan waktunya untuk beberapa hari melepas rindu –setelah mereka saling menunggu waktu ini, waktu untuk bisa bertemu dan bertatap-.
 “Bagaimana perasaanmu Zack, bahagiakah kamu malam ini?”
“Sangat bahagia, Rubi. Bagaimana denganmu? Apakah sama bahagianya denganku?”
“Iya, Zack. Sangat. Sangat lama sekali kita menanti waktu ini tiba. Berdua menghabiskan malam. Bertemu sacara nyata, bukan lagi maya. Bertukar cerita berdua, beradu manja, dan bahkan diawal kita bertemu kita sempat saling diam memberikan waktu untuk jiwa kita saling menyapa terlebih dahulu sebelum akhirnya kita berpelukan. Kau ingat itu, Zack? Lucu sekali.”
“Hahaha… Iya, Rubi. Kamu benar. Mungkin saking lamanya kita tak bertemu sampai-sampai kita canggung untuk bertukar peluk.”
“Zack, terimakasih untuk hari ini, untuk kemarin, dan dahulu. Terimakasih kamu sudah mau memberikan rasa dan menulis ceritamu diperjalanan hidupku.”
Menatap ke arah Rembulan.
“Zack, kau lihat bulan itu? Dia sangat cantik bukan. Dia sempurna malam ini. Sinarnya terang. Tak ada cacatnya. Bahkan awanpun tak berani lewat agar kecantikannya tetap sempurna. Agar orang-orang di dunia ini bisa menikmati kemilaunya yang melebihi indahnya berlian.”
“Lalu, apa kabar matahari? Bukannya dia juga cantik? Sinarnya sangat benderang. Seharusnya dia juga dipuja oleh pujangga di dunia. Tapi apa? Dia dilupakan. Orang-orang lupa bahwa mataharilah yang memberikan sinarnya untuk rembulan sehingga dia dipuja, dinikmati, dan menjadi inspirasi oleh manusia-manusia yang dimabuk cinta. Matahari memberikan sinarnya dengan ikhlas. Dia juga tak pernah mengeluh. Entah malam sedang mendung. Entah orang-orang sedang melihat rembulan atau tidak. Matahari tetap menyinarinya dengan sempurna.”
“Zack, setelah kamu beranjak dari tempat dudukmu. Setelah kamu berdiri dan menunggu bus. Setelah kamu pergi dari kota ini dan sampai di kotamu. Setelah esok hari kamu bangun dari lelap tidurmu. Mulailah mencari sosok matahari itu. Sesosok matahari yang ikhlas berbagi sinar sempurnanya agar kamu bisa dicintai banyak orang. Sesosok matahari yang menghangatkan jiwamu kapanpun itu. Sesosok matahari yang tak pernah lelah menyinarimu walau mendung dan topan datang.”
“Tapi itu bukan aku, Zack.”
“Bukannya aku tak ikhlas menyinarimu. Bukannya aku tak mau menjadi sebab akibat dalam hidupmu. Bukannya aku pamrih atas perhatianku untukmu saat kamu tersungkur. Bukan. Bukan karena itu. Aku hanya  tak mau menjadi matahari yang terlupakan karena sikapmu yang acuh pada matahari sepertiku. Terimakasih, Zack. Aku mencintaimu.”
Rubi mencium kening Zack tanda perpisahan sebelum akhirnya Rubi meninggalkan Zack sendirian di taman kota. Zack hanya mematung. Bibirnya kelu. Dia tak mampu berkata satu patah katapun. Kerongkongannya tercekat, dadanya menyempit, seperti ada yang terenggutkan. Zack melihat kearah Rubi pergi. Hanya ada punggung yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Punggung itu hilang bersama semilir angin. Dingin.
Berkata dalam hati.
“Rubi, tahukah kamu? Malam ini sebenarnya aku hendak melamarmu dibawah rembulan yang sempurna itu. Melamarmu bukan hanya menjadi istriku, tapi menjadi matahariku. Aku juga (sangat) mencintaimu, matahariku”

Follower

Follower