Pada sore menjelang senja yang dulu kukenal sebagai waktu terbaik untuk menumpuk sendal menjadi gawang, lalu bermain bola bersama anak-anak sebaya. Kini kukenali sebagai waktu yang tepat untuk membawa seorang perempuan ke tepian pantai, dan mencium bibirnya yang merah. Perempuan seperti apa yang melengkapi keindahan senja? Itu tergantung pengalaman hidupmu sebagai laki-laki, sejak kau menganggap bermain bola di waktu sore tak lagi semenarik senyum perempuan.
Orang bilang, para penulis mengatakan di novel-novel cinta picisan, sutradara menunggu berjam-jam untuk merekam gambarnya, matahari di kala senja adalah matahari yang indah. Matahari di kala senja, adalah matahari yang baru saja selesai marah sepanjang hari. “Ini seperti perempuan, terjadi pada isteriku, setiap usai meluapkan kemarahan, ia bagai bidadari yang mempesona,” kata seorang suami. Matahari yang marah sepanjang siang, menularkan emosi yang meledak-ledak di kepala manusia. Lalu matahari senja, adalah keelokan yang luarbiasa. Orang-orang berduyun memuja kecantikannya, biasanya pergi ke pantai, menikmati matahari kala senja itu.
Masih banyak tipe matahari yang lain. Matahari di Eropa, ia malu-malu pada musim tertentu. Malu atau pelit adalah hal yang tipis untuk dibedakan sebenarnya. “Matahari di Eropa seperti perawan, atau nenek-nenek kikir, membuka pintu sedikit. Orang berduyun di depan pintunya mengharap kehangatan, dan ia menutup pintu dengan cepat, meninggalkan orang-orang kedinginan.” kisah pria petualang lain, yang di paspornya tercap visa-visa Eropa. “Matahari di Afrika atau Arab, lebih ganas. Ia seperti Xena The Warrior Princess,” saksi seorang agen pemain sepakbola yang sering pergi ke Afrika dan transit di negara Arab mencari pemain murah untuk bermain di Liga Indonesia.
Tapi matahari kala senja di Indonesia, indahnya luar biasa. Dan momen itu paling tepat untuk mencumbu bibir perempuan.
Dan setelah melewati puluhan hari, sejak aku tak lagi menyusun sendal menjadi gawang lalu bermain bola bersama rekan-rekan yang masih belia. Akhirnya aku berhasil membawa seorang perempuan, yang sudah kulabeli kekasih, pada suatu sore yang kurasa tepat, ke pantai yang kuanggap paling indah.
“Kenapa kau bawa aku kemari?” tanya kekasihku. Kami berdiri berhadap-hadapan di tepian pantai, lepas adzan Ashar. “Aku ingin menciummu.” jawabku. Kekasihku tersenyum. “Akhirnya kau akan menciumku juga,” timpalnya, sudah berbulan-bulan sejak kami menjadi pasangan kekasih, aku memang belum menciumnya, aku menunggu saat yang pas. Pernah sekali kubawa ke pantai, tapi hari itu hujan. Pernah kulihat matahari yang bagus, tapi pantainya kotor. Semuanya kini tepat seperti yang kuinginkan, pada hari kami berdiri berhadapan, sekarang.
“Kapan kau menciumku?” tanya kekasihku.
“Tunggu dulu,” aku melirik ke belakang lehernya, matahari bersiap tergelincir ke ufuk barat. “Sebentar lagi,” kataku.
Aku mengamati matahari itu dengan seksama, ia indah luarbiasa, ia matahari yang sepanjang hari tadi ganas membakar kepala-kepala manusia hingga luluh-lantak tak berdaya, kini tak berdaya, ia hampir mati terkapar jadi santapan malam.
“Pejamkan matamu,” pintaku. Kekasihku menurut, ia memejamkan matanya. Aku melirik ke belakang lehernya, matahari tinggal separuh, separuhnya lagi sudah dikunyah senja. Aku bersiap memejamkan mata.
“Buruan.” pinta kekasihku, kulihat bibirnya sudah menunggu lidahku. Aku memejamkan mata, membasahi bibirku dan mendorongnya maju, tapi… tak ada apa-apa. Aku mendorong kepalaku lebih ke depan, tapi masih tak kudapati bibir merekah kekasihku. Aku membuka mata. Tak ada siapa-siapa kecuali, matahari yang perlahan hampir lenyap ditelan samudera malam. Ia tertawa!
“Brengsek!” teriakku, “Matahari brengsek!” aku marah luar biasa. “Matahari itu menculik kekasihku!” Teriakku pada debur ombak, ujung lidah matahari masih terlihat sedikit. Tanpa pikir panjang aku berlari mengejarnya. “Kembalikan kekasihku!” Aku berlari membabi-buta, menerjang lautan. “Kembalikaaaa…blurrppp!” Ombak menyapu wajahku. Aku sadar aku sudah berlari terlalu jauh ke arah laut. Aku balik badan, daratan sepertinya dekat. Aku berlari menjauhi lautan, tapi tiba-tiba, tangan-tangan ombak memeluk dengkulku, mencengkeram betisku, menarik pinggangku, dan menyeretku jauh ke dalam samudera…
(nugros/20Okt)
Cerita di posting oleh salah satu sutradara andalan Indonesia, Fajar Nugros.