Dentingan nada-nada minor mengalun bebas
dalam dekapan alam. Membuatku semakin terdiam dan meringkuh rapuh karena
kegetiran sebuah hati yang naif. Aku sendiri tak benar-benar mengerti apa arti
dari sebuah perasaan, apalagi mengenai cinta. Rasa ini begitu indah tapi
sayangnya selalu menggelisahkan hati yang sulit percaya akan kekuatan jiwanya.
Layaknya biola yang akan melahirkan nada-nada merdu dari dawainya. Pun dengan
cinta, yang akan membahagiakan umat manusia dengan anugrahnya. Ini hal fana
yang paling disukai manusia. Dan salah satunya adalah diriku terhadapnya.
Untuk apa menjadi kaya jika cinta itu
sederhana. Hanya dengan tahu kabarnya sudah bisa membuat bahagia?
Untuk apa menguasai dunia, jika cinta
itu sederhana. Dengan bisa berbagi bersama mereka sudah bisa membuat tertawa
dan lega?
Entah rasa apa yang harus kupertahankan
untuk sosoknya. Cinta, sayang, kejujuran, ketulusan, atau rasa percaya?
Sayangnya semua itu sering kali membuatku menderita. Membuatku mengais-ais iba
untuk diri dan jiwa kelanaku. Apa ini balasan yang didapat seorang pecinta?
Pecinta seharusnya selalu dipuja
bukannya dicerca. Malang! Malang sekali nasib seorang pecinta. Seperti kisah
Majnun, pecinta Arab yang menderita jiwanya karena kefanaan. Dirinya dibuat
menderita dan gila.
Aku hanya ingin tua dengan cinta.
Menghabiskan masa muda dengan berkelana bersamanya, cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar