Senin, 20 Oktober 2014

(Puisi) Merindukan Kartini yang Harum Namanya

Suatu malam aku bermimpi
Bermimpi menjadi permaisuri
Permaisuri yang memiliki wajah berseri-seri
Permaisuri yang menggunakan sanggul
Sanggul sederhana
Tanpa hiasan
Tanpa berlian
Namun menyimpan seribu cinta
Cinta untuk negaranya
Berjuang demi srikandi bangsa
Srikandi-srikandi Indonesia yang terkadang dipandang sebelah mata
Perlahan ku buka mata dan menatap kusen-kusen jendela
Terdiam sejenak, kembali ku tutup mata

Ternyata aku hanya merindukan sesosok Kartini yang harum namanya

Surat dari Peri

Aku menulis di pagi ini. Saat matahari belum menyapa bumi. Udara terasa sejuk untuk diri yang terasa sendiri. Semilir. Sendiri aku duduk di balkon menghadap jagad kota ini. Lampu masih berkerlip. Langit mendung. Awan sedikit bergumpal menyisakan uap air sisa hujan semalam. Berucap Alhamdulillah dan Subhanallah. Masih diberi kesempatan istimewa seperti ini.
Di dalam waktu yang sunyi. Aku sendiri. Berdoa dan menyepi. Bertanya dan memohon kepada Tuhan sang Maha Pemberi. Aku meluapkan isi hatiku tiada henti. Air mengalir dari sudut mataku. Aku bercerita...
Tuhan yang mencintaiku, kini aku resah. Terasa sulit sekali memejamkan mata ini. menenangkan hati yang sendiri. Kenapa aku? Tuhanku, aku mencari dengan berlari jawaban atas penyakitku ini. Nama-Mu ku serukan, Rasul-Mu ku sebutkan, kalimat-Mu ku bacakan. Tak lekas juga aku temukan jawaban.”
“Maha segalaku, beberapa waktu lalu aku di khianati oleh saudaraku sendiri. Kepercayaanku diabaikan. Rasaku disepelekan. Mungkinkah itu penyakit yanng menghalangi kebebasab diriku, Tuhan? Bolehkah peri kecilmu ini bercerita? Peri ini sudah tidak mampu mengawasinya lagi. Sayapku patah. Tubuhku lemah. Aku tidak bisa terbang tinggi mengikuti inginnya. Jangankan membawaku yang buruk ini, mendengarkan keluhku pun ia enggan. Bukan hanya raga yang terlunta, jiwapun merana. Oh, Tuhan Maha Bijaksana semoga deritaku ini sementara. Aku memohon, ambilah luka ini. Sekarang juga.”
“Aku tidak pernah menyesal. Bahkan aku sangat senang. Pernah menjadi peri yang mengawasinya. Namun karena percaya yang sudah diperdaya. Membuatku putus asa. Aku rela. Semoga dia mendapatkan peri yang bergelimang asa. Sehingga bisa menemaninya selamanya. Jagalah dia, Tuhan.”

“PeriMu pamit.”

[cerpen] “Kekasihnya Diculik Matahari, Ia Diseret Ombak”

Pada sore menjelang senja yang dulu kukenal sebagai waktu terbaik untuk menumpuk sendal menjadi gawang, lalu bermain bola bersama anak-anak sebaya. Kini kukenali sebagai waktu yang tepat untuk membawa seorang perempuan ke tepian pantai, dan mencium bibirnya yang merah. Perempuan seperti apa yang melengkapi keindahan senja? Itu tergantung pengalaman hidupmu sebagai laki-laki, sejak kau menganggap bermain bola di waktu sore tak lagi semenarik senyum perempuan.

Orang bilang, para penulis mengatakan di novel-novel cinta picisan, sutradara menunggu berjam-jam untuk merekam gambarnya, matahari di kala senja adalah matahari yang indah. Matahari di kala senja, adalah matahari yang baru saja selesai marah sepanjang hari. “Ini seperti perempuan, terjadi pada isteriku, setiap usai meluapkan kemarahan, ia bagai bidadari yang mempesona,” kata seorang suami. Matahari yang marah sepanjang siang, menularkan emosi yang meledak-ledak di kepala manusia. Lalu matahari senja, adalah keelokan yang luarbiasa. Orang-orang berduyun memuja kecantikannya, biasanya pergi ke pantai, menikmati matahari kala senja itu.

Masih banyak tipe matahari yang lain. Matahari di Eropa, ia malu-malu pada musim tertentu. Malu atau pelit adalah hal yang tipis untuk dibedakan sebenarnya. “Matahari di Eropa seperti perawan, atau nenek-nenek kikir, membuka pintu sedikit. Orang berduyun di depan pintunya mengharap kehangatan, dan ia menutup pintu dengan cepat, meninggalkan orang-orang kedinginan.” kisah pria petualang lain, yang di paspornya tercap visa-visa Eropa. “Matahari di Afrika atau Arab, lebih ganas. Ia seperti Xena The Warrior Princess,” saksi seorang agen pemain sepakbola yang sering pergi ke Afrika dan transit di negara Arab mencari pemain murah untuk bermain di Liga Indonesia.

Tapi matahari kala senja di Indonesia, indahnya luar biasa. Dan momen itu paling tepat untuk mencumbu bibir perempuan.

Dan setelah melewati puluhan hari, sejak aku tak lagi menyusun sendal menjadi gawang lalu bermain bola bersama rekan-rekan yang masih belia. Akhirnya aku berhasil membawa seorang perempuan, yang sudah kulabeli kekasih, pada suatu sore yang kurasa tepat, ke pantai yang kuanggap paling indah.

“Kenapa kau bawa aku kemari?” tanya kekasihku. Kami berdiri berhadap-hadapan di tepian pantai, lepas adzan Ashar. “Aku ingin menciummu.” jawabku. Kekasihku tersenyum. “Akhirnya kau akan menciumku juga,” timpalnya, sudah berbulan-bulan sejak kami menjadi pasangan kekasih, aku memang belum menciumnya, aku menunggu saat yang pas. Pernah sekali kubawa ke pantai, tapi hari itu hujan. Pernah kulihat matahari yang bagus, tapi pantainya kotor. Semuanya kini tepat seperti yang kuinginkan, pada hari kami berdiri berhadapan, sekarang.

“Kapan kau menciumku?” tanya kekasihku.
“Tunggu dulu,” aku melirik ke belakang lehernya, matahari bersiap tergelincir ke ufuk barat. “Sebentar lagi,” kataku.

Aku mengamati matahari itu dengan seksama, ia indah luarbiasa, ia matahari yang sepanjang hari tadi ganas membakar kepala-kepala manusia hingga luluh-lantak tak berdaya, kini tak berdaya, ia hampir mati terkapar jadi santapan malam.

“Pejamkan matamu,” pintaku. Kekasihku menurut, ia memejamkan matanya. Aku melirik ke belakang lehernya, matahari tinggal separuh, separuhnya lagi sudah dikunyah senja. Aku bersiap memejamkan mata.

“Buruan.” pinta kekasihku, kulihat bibirnya sudah menunggu lidahku. Aku memejamkan mata, membasahi bibirku dan mendorongnya maju, tapi… tak ada apa-apa. Aku mendorong kepalaku lebih ke depan, tapi masih tak kudapati bibir merekah kekasihku. Aku membuka mata. Tak ada siapa-siapa kecuali, matahari yang perlahan hampir lenyap ditelan samudera malam. Ia tertawa!

“Brengsek!” teriakku, “Matahari brengsek!” aku marah luar biasa. “Matahari itu menculik kekasihku!” Teriakku pada debur ombak, ujung lidah matahari masih terlihat sedikit. Tanpa pikir panjang aku berlari mengejarnya. “Kembalikan kekasihku!” Aku berlari membabi-buta, menerjang lautan. “Kembalikaaaa…blurrppp!” Ombak menyapu wajahku. Aku sadar aku sudah berlari terlalu jauh ke arah laut. Aku balik badan, daratan sepertinya dekat. Aku berlari menjauhi lautan, tapi tiba-tiba, tangan-tangan ombak memeluk dengkulku, mencengkeram betisku, menarik pinggangku, dan menyeretku jauh ke dalam samudera…

(nugros/20Okt)
Cerita di posting oleh salah satu sutradara andalan Indonesia, Fajar Nugros.

Cinta? (Baca: Cinta dan Tanya)

Dentingan nada-nada minor mengalun bebas dalam dekapan alam. Membuatku semakin terdiam dan meringkuh rapuh karena kegetiran sebuah hati yang naif. Aku sendiri tak benar-benar mengerti apa arti dari sebuah perasaan, apalagi mengenai cinta. Rasa ini begitu indah tapi sayangnya selalu menggelisahkan hati yang sulit percaya akan kekuatan jiwanya. Layaknya biola yang akan melahirkan nada-nada merdu dari dawainya. Pun dengan cinta, yang akan membahagiakan umat manusia dengan anugrahnya. Ini hal fana yang paling disukai manusia. Dan salah satunya adalah diriku terhadapnya.
Untuk apa menjadi kaya jika cinta itu sederhana. Hanya dengan tahu kabarnya sudah bisa membuat  bahagia?
Untuk apa menguasai dunia, jika cinta itu sederhana. Dengan bisa berbagi bersama mereka sudah bisa membuat tertawa dan lega?
Entah rasa apa yang harus kupertahankan untuk sosoknya. Cinta, sayang, kejujuran, ketulusan, atau rasa percaya? Sayangnya semua itu sering kali membuatku menderita. Membuatku mengais-ais iba untuk diri dan jiwa kelanaku. Apa ini balasan yang didapat seorang pecinta?
Pecinta seharusnya selalu dipuja bukannya dicerca. Malang! Malang sekali nasib seorang pecinta. Seperti kisah Majnun, pecinta Arab yang menderita jiwanya karena kefanaan. Dirinya dibuat menderita dan gila.

Aku hanya ingin tua dengan cinta. Menghabiskan masa muda dengan berkelana bersamanya, cinta.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Matahari Yang Terlupakan ♥

Di taman kota yang ramai Zack dan Rubi duduk berdua menikmati cantiknya rembulan yang sedang sempurna. Setelah mereka berdua menghabiskan waktunya untuk beberapa hari melepas rindu –setelah mereka saling menunggu waktu ini, waktu untuk bisa bertemu dan bertatap-.
 “Bagaimana perasaanmu Zack, bahagiakah kamu malam ini?”
“Sangat bahagia, Rubi. Bagaimana denganmu? Apakah sama bahagianya denganku?”
“Iya, Zack. Sangat. Sangat lama sekali kita menanti waktu ini tiba. Berdua menghabiskan malam. Bertemu sacara nyata, bukan lagi maya. Bertukar cerita berdua, beradu manja, dan bahkan diawal kita bertemu kita sempat saling diam memberikan waktu untuk jiwa kita saling menyapa terlebih dahulu sebelum akhirnya kita berpelukan. Kau ingat itu, Zack? Lucu sekali.”
“Hahaha… Iya, Rubi. Kamu benar. Mungkin saking lamanya kita tak bertemu sampai-sampai kita canggung untuk bertukar peluk.”
“Zack, terimakasih untuk hari ini, untuk kemarin, dan dahulu. Terimakasih kamu sudah mau memberikan rasa dan menulis ceritamu diperjalanan hidupku.”
Menatap ke arah Rembulan.
“Zack, kau lihat bulan itu? Dia sangat cantik bukan. Dia sempurna malam ini. Sinarnya terang. Tak ada cacatnya. Bahkan awanpun tak berani lewat agar kecantikannya tetap sempurna. Agar orang-orang di dunia ini bisa menikmati kemilaunya yang melebihi indahnya berlian.”
“Lalu, apa kabar matahari? Bukannya dia juga cantik? Sinarnya sangat benderang. Seharusnya dia juga dipuja oleh pujangga di dunia. Tapi apa? Dia dilupakan. Orang-orang lupa bahwa mataharilah yang memberikan sinarnya untuk rembulan sehingga dia dipuja, dinikmati, dan menjadi inspirasi oleh manusia-manusia yang dimabuk cinta. Matahari memberikan sinarnya dengan ikhlas. Dia juga tak pernah mengeluh. Entah malam sedang mendung. Entah orang-orang sedang melihat rembulan atau tidak. Matahari tetap menyinarinya dengan sempurna.”
“Zack, setelah kamu beranjak dari tempat dudukmu. Setelah kamu berdiri dan menunggu bus. Setelah kamu pergi dari kota ini dan sampai di kotamu. Setelah esok hari kamu bangun dari lelap tidurmu. Mulailah mencari sosok matahari itu. Sesosok matahari yang ikhlas berbagi sinar sempurnanya agar kamu bisa dicintai banyak orang. Sesosok matahari yang menghangatkan jiwamu kapanpun itu. Sesosok matahari yang tak pernah lelah menyinarimu walau mendung dan topan datang.”
“Tapi itu bukan aku, Zack.”
“Bukannya aku tak ikhlas menyinarimu. Bukannya aku tak mau menjadi sebab akibat dalam hidupmu. Bukannya aku pamrih atas perhatianku untukmu saat kamu tersungkur. Bukan. Bukan karena itu. Aku hanya  tak mau menjadi matahari yang terlupakan karena sikapmu yang acuh pada matahari sepertiku. Terimakasih, Zack. Aku mencintaimu.”
Rubi mencium kening Zack tanda perpisahan sebelum akhirnya Rubi meninggalkan Zack sendirian di taman kota. Zack hanya mematung. Bibirnya kelu. Dia tak mampu berkata satu patah katapun. Kerongkongannya tercekat, dadanya menyempit, seperti ada yang terenggutkan. Zack melihat kearah Rubi pergi. Hanya ada punggung yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Punggung itu hilang bersama semilir angin. Dingin.
Berkata dalam hati.
“Rubi, tahukah kamu? Malam ini sebenarnya aku hendak melamarmu dibawah rembulan yang sempurna itu. Melamarmu bukan hanya menjadi istriku, tapi menjadi matahariku. Aku juga (sangat) mencintaimu, matahariku”

Jumat, 17 Oktober 2014

-Rasa dan Logika-


Asa menyapa Kembali dengan cerita barunya
Membaca cerita dengan sekuat tenaga
Membawa setangkai bunga
Merah nan merona
Nada yang kau bawa
Pun membuatku terpana
Andaikata, aku bisa berkata
Aku butuh kau yang penuh cinta
Aku butuh kau yang memperjuangkan makna
Tapi apa daya
Semua sia-sia
Bahwa rasa tak bisa dipaksa
Karena rasa juga memiliki logika

Aro, Aku Merindukanmu

Langit kedatangan jingga pertanda senja akan menyapa. Daun-daun saling bergesek menghembuskan angin penyejuk raga. Cahaya itu dengan angkuh menerobos kokohnya dedaunan yang saling berangkulan. Dan aku masih duduk di sini sendiri menunggu jemputmu. Dari seberang pulau kau berjanji akan menjemputku esok lusa di bawah Cemara tempat kita berjumpa.
Sudah kukenakan baju merah yang kau pesankan untukku. Padahal kau tahu, aku tak menyukai warna merah. Lusa itu pun datang. Aku menunggumu. Berjam-jam lamanya. Tak ada kabar. Saat aku beranjak untuk kembali. Ada namamu muncul dari layar ponselku.
Sebuah pesan ku terima.
“Ada berita duka bahwa orang yang memiliki ponsel ini telah meninggal karena ledakan kapal.”
Mataku terbelalak. Kerongkonganku tercekat. Nafasku tersengal. Tak bisa berbicara. Aku hanya memandangi langit. Bertanya. Mungkin Ia tau jawabnya. Entah ini lusa keberapa. Aku tetap menanti. Duduk sendiri di sini. Di bawah Cemara tempat kita berjumpa. Aku berdoa padaNya agar mempertemukan kita berdua.
Aro, aku merindukanmu.

Kamis, 16 Oktober 2014

"Puisi tanpa jeda, untukmu"


Hal manis itu merasuk di jiwa.
Meleleh perlahan ke penjuru tubuh dalam satu rasa yang meledak-ledak.

Menjadikan selembar ruh merasa lebih baik.
Lebih dari sekedar makanan.
Lebih dari sekedar buaian.
Cinta adalah gairah.
Bahkan kebutuhan yang harus dimiliki.
Melewati berbagai kisah tentang cinta, memberiku cerita nyata apa itu bahagia, terjatuh, terpuruk, bahkan melayang menuju pelataran surga.
Pelukan yang romantis.
Senyuman yang manis.
Bahkan kecupan penuh magis.
Hal-hal ajaib terjadi saat tenggelam bersama cinta.
Dari aku dan kamu, telah berubah menjadi kita.
Cerita yang menenangkan hari-hari rumit.
Inilah cerita cinta yang sederhana.

"3 paragraf terakhir"


Tanpa jeda ku berpuisi untukmu.
Menulis perasaan liar yang datang disetiap sudut hati.
Mendayu, menikmati alunan nada-nada cinta.
Bersamamu, mimpiku hidup.
Kini ku berkarya di seluruh nafasku.
Tanpa ku sadari angin menyusup di sela-sela jemariku.
Menyapu rangkaian pasir mimpi-mimpiku untukmu.
Aku terpuruk, meratapi kejamnya angin pada butiran mimpiku.
Berlari kesana kemari mencari jawaban,
Semu…..
Mencoba mendekat dan perlahan menyentuhnya.
Ternyata angin itu adalah masa lalu, ya. Ma-sa-la-lu-mu.
Meronta disetiap perih tanpa tahu apa pilihanku.
Tenggelam dalam bimbang.
Kini ku berdiri di kaki senja.
Berjuang untuk mimpi kita atau membiarkanmu terbang bersamanya.

Potensi Rembang

Kabupaten Rembang terletak di ujung timur laut Propinsi Jawa Tengah dan dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura), terletak pada garis koordinat 111000′ – 111030′ Bujur Timur dan 6030′ – 706′ Lintang Selatan. Laut Jawa terletak disebelah utaranya, secara umum kondisi tanahnya berdataran rendah dengan ketinggian wilayah maksimum kurang lebih 70 meter di atas permukaan air laut. Adapun batas- batasnya antara lain:
• Sebelah Utara : Laut Jawa
• Sebelah Timur : Kabupaten Tuban Propinsi Jawa Timur
• Sebelah Selatan : Kabupaten Blora
• Sebelah Barat : Kabupaten Pati
Secara administratif Kabupaten Rembang memiliki 14 kecamatan, 287 desa, 7 kelurahan serta memiliki luas wilayah meliputi 101.408 ha.
Perkembangan perekonomian Kabupaten Rembang selama kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang berfluktuasi dengan kisaran angka 2,77%-5.31%. Pertumbuhan negatif terjadi pada periode 1997-1998 yang disebabkan oleh keterpurukan ekonomi nasional. Namun semenjak itu perekonomian di Rembang makin menggeliat bangkit menuju arah yang positif. Kabupaten Rembang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang sangat besar, hal ini ditandai dengan panjang wilayah pantai Kabupaten Rembang sepanjang ± 62,33 Km yang banyak terkandung berbagai potensi hasil laut yang melimpah yaitu dengan jenis yang dominan adalah ikan layang, tambang, kembung, selar, tongkol, cumi-cumi, kurisi, teri, manyung, layur, kakap, dan rajungan. Disamping itu juga ditunjang oleh keberadaan sebagian penduduk yang bertempat tinggal di sepanjang pantai tersebut bermata pencaharian sebagai nelayan, (dengan perincian Juragan sebanyak 4.322 orang, Pandego sebanyak 10.971 orang dan penduduk yang bermatapencaharian sambilan sebagai nelayan sebanyak 1.648 orang).
Jumlah pasar tradisional yang ada di Kabupaten Rembang saat ini adalah 20 buah, tersebar di seluruh kecamatan secara merata dan berkembang dengan pesat. Sedangkan jumlah minimarket yang ada di Kabupaten Rembang saat ini berjumlah 10 buah dan diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan semakin ramainya perekonomian di Rembang. Selain itu Toko, Warung, dan Kios yang ada di Kabupaten Rembang jumlahnya mencapai 4200 unit lebih tersebar di hampir tiap dusun serta desa yang ada. Hal ini sangat positif karena sangat memudahkan bagi usaha apapun untuk memasarkan Produk Usahanya agar bisa di serap oleh masyarakat yang membutuhkannya. Kabupaten Rembang juga berada di jalur pantura yang menghubungkan kota Jakarta – Semarang – Surabaya, sehingga sangat memudahkan akses transportasi dan pengiriman barang.

Disadur dari https://odasamodra.wordpress.com/2013/02/12/potensi-daerah-kota-rembang/

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS I



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah           : SDN Rejosari 1
Mata pelajaran          : Tematik
Kelas / Semester        : I / I (satu)
Waktu                                    : 1 hari
Tema / Subtema        : Kegemaranku / Gemar Berolahraga

I.                   Kompetensi Inti
1.      Menerima, menghargai, dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
2.      Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, tetangga, dan guru
3.      Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain
4.      Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

II.                Kompetensi Dasar
Bahasa Indonesia
3.2 Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman
4.2 Mempraktikan teks arahan/petunjuk tentang merawat tubuh serta kesehatan dan kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian


Seni Budaya dan Prakarya (SBDP)
3.1  Menggambar ekspresi dengan mengolah garis, warna dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekitar.

III.             Indikator
Bahasa Indonesia
1.        Menjelaskan kegiatan olahraga dengan bantuan gambar
2.        Menyusun huruf menjadi nama-nama kegiatan olahraga
3.        Menulis nama-nama kegiatan olahraga.

Seni Budaya dan Prakarya (SBDP)                
1.      Menggambar alat olahraga yang disukai

IV.             Tujuan Pembelajaran
1.      Dengan mengamati gambar, siswa mampu menjelaskan macam-macam olahraga dengan benar.
2.      Peserta didik mampu membaca nyaring nama-nama olahraga dengan benar.
3.      Peserta didik mampu menyusun huruf menjadi nama-nama olahraga dengan tepat.
4.      Setelah menyusun huruf peserta didik mampu menulis nama-nama olahraga dengan benar.
5.      Dengan memasangkan gambar peserta didik mampu mengidentifikasi alat-alat olahraga dengan benar.
6.      Setelah mampu mengidentifikasi alat olahraga, peserta didik mampu menentukan pola tulisan nama salah satu alat olahraga tertentu dengan tepat.
7.      Peserta didik mampu menggambar alat olahraga yang disukai.

V.                Materi Pembelajaran
1.     Mengamati, Membaca, dan Menulis yang Berkaitan dengan Olahraga
2.     Mengenal Alat Olahraga

VI.             Metode Pembelajaran
1.    Ceramah
2.    Diskusi
3.    Tanya jawab
4.    Penugasan


Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter yang diharapkan :
-          Disiplin
-          Tanggung jawab
-          Toleransi

VII.          Kegiatan Pembelajaran
KEGIATAN
DEKSKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI WAKTU
Kegiatan Pembuka
  • Guru mengucapkan salam
  • Mengkondisikan kelas pada situasi belajar
  • Berdoa, Mengisi daftar kelas, mempersiapkan materi ajar, model, alat peraga
  • Memperingatkan cara duduk yang baik ketika menulis dan membaca
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  • Guru memotivasi dan mengajak peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran
1 hari
Kegiatan Inti
Langkah-Langkah Kegiatan:
1.      Siswa diminta untuk mengamati gambar yang diberikan oleh guru.
2.      Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan isi gambar.
3.      Contoh pertanyaan yang dapat diajukan:
·         Olahraga apa yang kamu lihat pada gambar?
·         Berapa banyak anak yang bermain bulu tangkis pada gambar?
·         Berapa banyak anak yang bermain sepak bola pada gambar?
·         Berapa jumlah anak seluruhnya pada gambar?
·         Olahraga mana yang merupakan olahraga tim?
·         Sikap apakah yang penting ditunjukkan dalam melakukan olahraga tim?
·         Olahraga apa yang paling kamu sukai?
·         Olahraga apa yang baru kamu ketahui?
4.      Siswa membaca nyaring nama-nama cabang olahraga dengan bimbingan guru.
5.      Siswa menyusun huruf menjadi nama-nama cabang olahraga yang dipelajari.
6.      Siswa menulis nama-nama cabang olahraga yang dipelajari.
7.      Untuk mengonfirmasi pengetahuan siswa, guru meminta siswa untuk menuliskan olahraga yang sudah diketahui dan baru diketahui.
Langkah-Langkah Kegiatan:
1.      Siswa berdiskusi tentang cabang-cabang olahraga yang mereka ketahui dengan arahan guru.
2.      Siswa mendengarkan pertanyaan-pertanyaan guru sebagai berikut:
·         Jika kamu ingin bermain sepak bola, alat apa yang kamu butuhkan?
·         Jika kamu ingin bermain bulutangkis, alat apa yang kamu butuhkan?
·         Jika kamu ingin bermain kasti, alat apa yang kamu butuhkan?
3.      Siswa diminta untuk menyebutkan alat-alat yang dipergunakan untuk berolahraga.
4.      Siswa diminta menunjukkan pasangan gambar yang saling berhubungan di buku siswa dengan menarik garis. Misalnya, gambar bola dengan gambar lapangan bola dan gambar pelampung dengan kolam renang.
5.      Kemudian, siswa memilih pasangan gambar yang disukai untuk dijadikan tema dalam menggambar.
6.      Siswa menggambar dan mewarnai sesuai tema.

Kegiatan Penutup
1.      Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan hari ini.
2.      Guru memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.
3.      Guru melakukan penilaian.
4.      Guru menyampaikan pesan moral kepada siswa untuk senantiasa mengucapkan terima kasih kepada teman yang sudah menolong.



VIII.       Alat dan Sumber Belajar
-          Alat :
1.      Papan susun (sterofoam)
2.      Gambar kegiatan olahraga
3.      Kertas huruf
4.      Paku sterofoam
5.      Pensil/pensil warna/krayon/spidol

-          Sumber :
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2013. Tema kegemaranku. Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013. Buku Siswa SD/MI. Halaman 1-4

IX.             Evaluasi / Penilaian
Prosedur penilaian : Penilaian proses dan akhir
1.        Penilaian proses (menilai sikap dan proses)
Melalui penilaian aktivitas siswa saat mengerjakan tugas baik individu maupun diskusi.
2.        Penilaian akhir
Melalui penilaian tertulis dengan bentuk soal isian (Individu).




INSTRUMEN PENILAIAN
Nama Sekolah         :   SDN Rejosari 1
Tema / Subtema      :   Kegemaranku / Gemar Berolahraga
Alokasi Waktu        :   1 hari
Indikator
Teknik
Bentuk
Instrumen
Bahasa Indonesia
1.        Menjelaskan kegiatan olahraga dengan bantuan gambar





2.        Menyusun huruf menjadi nama-nama kegiatan olahraga




3.        Menulis nama-nama kegiatan olahraga.






Seni Budaya dan Prakarya (SBDP)        
1.        Menggambar alat olahraga yang disukai

Tes

















Tertulis
(isian)
















1.     


perhatikan gambar di atas
kegiatan olahraga apa yang ada pada gambar diatas?
2.    susunlah kartu – kartu huruf di bawah ini menjadi nama alat olahraga


3.    tebalkan nama kegiatan olahraga dibawah ini
a.      


b.     

4.      gambarlah alat olahraga yang kamu sukai

 



TEKNIK PENILAIAN
I.     PENILAIAN KOGNITIF
Ø   Penilaian Individu
No soal
Skor
1
2
2
2
3
3
4
3
JUMLAH
10

CATATAN :
@ Penilaian    =
@ Untuk siswa yang tidak memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan Remedial.

Mengetahui                                                                      Semarang, 27 April 2014
Kepala Sekolah                                                                Guru Kelas


Rasinta, S.Pd.                                                                 Hanna Nur Falinda

Follower

Follower