Jumat, 17 Oktober 2014

Aro, Aku Merindukanmu

Langit kedatangan jingga pertanda senja akan menyapa. Daun-daun saling bergesek menghembuskan angin penyejuk raga. Cahaya itu dengan angkuh menerobos kokohnya dedaunan yang saling berangkulan. Dan aku masih duduk di sini sendiri menunggu jemputmu. Dari seberang pulau kau berjanji akan menjemputku esok lusa di bawah Cemara tempat kita berjumpa.
Sudah kukenakan baju merah yang kau pesankan untukku. Padahal kau tahu, aku tak menyukai warna merah. Lusa itu pun datang. Aku menunggumu. Berjam-jam lamanya. Tak ada kabar. Saat aku beranjak untuk kembali. Ada namamu muncul dari layar ponselku.
Sebuah pesan ku terima.
“Ada berita duka bahwa orang yang memiliki ponsel ini telah meninggal karena ledakan kapal.”
Mataku terbelalak. Kerongkonganku tercekat. Nafasku tersengal. Tak bisa berbicara. Aku hanya memandangi langit. Bertanya. Mungkin Ia tau jawabnya. Entah ini lusa keberapa. Aku tetap menanti. Duduk sendiri di sini. Di bawah Cemara tempat kita berjumpa. Aku berdoa padaNya agar mempertemukan kita berdua.
Aro, aku merindukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follower

Follower